Mengabdi Kepada Allah SWT., dengan Membangun Ummat

SELAMAT DATANG DI BMT PILAR MANDIRI

#

6 Cara Mulai Menabung untuk Masa Depan


1. Membahas uang dengan suami/istri Anda

Sangatlah penting untuk berbicara tentang keuangan agar Anda berdua saling memahami pendapat masing-masing tentang pengeluaran, menabung dan membuat anggaran. Uang seringkali berdampak emosional dan dapat memecah belah keluarga; membahasnya akan memungkinkan Anda mengetahui sikap satu sama lain dan membuka saluran komunikasi. Pertimbangkan menyegarkan peran yang telah ditentukan, termasuk siapa yang membayar tagihan dan siapa yang membuat pembukuan. Ini dapat membantu Anda berdua menjadi lebih menyadari keuangan keluarga Anda dan mengevaluasi kembali prioritas Anda.

2. Membuat anggaran

Gagasan ini seringkali ditolak oleh orang-orang yang ingin mempertahankan kebebasan untuk membeli apa pun kapan pun mereka inginkan. Namun, ini adalah salah satu cara untuk mengendalikan pengeluaran Anda dan akan memberikan kebebasan keuangan dalam jangka panjang. Mulailah anggaran Anda dengan kategori di mana pengeluaran Anda biasanya dialokasikan, seperti cicilan rumah, makanan, pengeluaran kesehatan, cicilan mobil, hiburan, peralatan rumah tangga dan kategori lainnya yang sesuai dengan kebutuhan keluarga Anda. Hitunglah berapa banyak uang yang akan Anda perlukan setiap bulan dalam kategori-kategori ini dan buatlah gol untuk tidak melebihinya. Setelah Anda mengevaluasi kebiasaan pengeluaran Anda, Anda dapat mulai mengurangi pengeluaran di area tertentu untuk berhemat. Kategori termudah untuk dikurangi adalah makanan, hiburan, dan biaya lain-lain.

3. Membedakan antara keinginan dan kebutuhan

Tentukan apa hal-hal dalam anggaran Anda yang dapat Anda tinggalkan untuk sementara waktu. Misalnya, jika Anda pergi makan siang di luar setiap hari, Anda dapat berhemat dengan membawa bekal makan siang dari rumah. Ini dapat menjadi tambahan yang signifikan bagi tabungan Anda.

4. Membayar diri Anda terlebih dahulu

Setelah gajian, berusahalah untuk menabung sejumlah tertentu sebelum membayar tagihan. Mulailah dengan persentase kecil dari pendapatan Anda, dan secara bertahap tingkatkan jumlah itu sewaktu Anda mulai terbiasa mengeluarkan lebih sedikit uang. Pertimbangkan menggunakan auto debit agar Anda tidak lupa menabung.

5. Memulai sedini mungkin

Semakin lama Anda mulai menabung, semakin sulit bagi Anda untuk mencapai gol finansial Anda. Ketika Anda masih muda, tabungan Anda yang sedikit akan terakumulasi seiring berjalannya waktu. Dengan sedikit usaha, Anda akan menuai hasil yang besar.

6. Menabung untuk keadaan darurat

Masa pensiun bukanlah satu-satunya alasan Anda menabung. Keadaan darurat dapat mencakup hal-hal separah PHK, penyakit serius, atau kematian. Tabungan juga dapat digunakan untuk bersiap bagi masalah yang lebih ringan, seperti mobil rusak atau atap bocor. Satu cara untuk mengukur seberapa besar jumlah yang harus Anda tabung untuk keadaan darurat adalah dengan menabung cukup untuk membayar pengeluaran keluarga Anda selama tiga sampai enam bulan. Mulailah dengan jumlah kecil dan tentukan gol untuk menabung lebih banyak lagi. Setelah itu, tambahkan terus hingga tabungan Anda mencapai pendapatan Anda selama tiga sampai enam bulan. Jangan gunakan uang ini untuk alasan apa pun selain keadaan darurat.

Inilah Alasan Kenapa Anda Selalu Dililit Hutang


1. Anda membeli barang-barang yang tidak terlalu anda butuhkan.
Berhentilah membeli barang-barang menurut kata hati anda! Jika perlu hindarilah pergi ke mall! Sebab mall adalah sumber hutang pribadi anda. Tidak ada alasan memanjakan diri anda dengan membeli barang-barang bermerk yang sebetulnya tidak anda butuhkan.
2. Anda menggunakan kartu kredit untuk membeli barang-barang yang anda tidak mampu membelinya secara tunai.
Jika anda tidak dapat membeli secara tunai hari ini, jangan membelinya! Sesederhana itu rumusnya.
3. Anda berpikir bahwa merek produk tertentu menandakan status sosial, ’ngetrend’, gaya dsb.
Mobil membawa anda dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dompet adalah tempat menyimpan uang dan surat-surat penting anda. Kacamata hitam melindungi mata anda dari sinar matahari. Kaos menjaga anda tetap hangat. Jika anda selalu membayar sangat mahal untuk produk-produk tersebut demi status sosial, ‘ngetrend’ atau gaya, dibanding dengan fungsinya itu sendiri, berarti anda dalam masalah.
4. Anda membeli mobil baru setiap beberapa tahun.
Lihat poin saya sebelumnya. Mobil berfungsi mengantarkan anda dari suatu tempat ke tempat yang lain. Jika anda membeli sebuah mobil baru setiap beberapa tahun meskipun mobil lama anda masih berfungsi dengan sangat baik, maka anda sedang berusaha keras untuk mengesankan ‘sesuatu’ yang salah pada orang-orang… dan anda sendiri sedang dalam proses menuju pada kebangkrutan.
5. Anda membeli sesuatu yang sebetulnya bisa anda pinjam atau sewa.
Poinnya adalah jika anda hanya sesekali menggunakan barang tersebut, kenapa anda tidak meminjam dari teman anda atau menyewanya saja? Sebagai contoh, saya hampir saja membeli sebuah tangga lipat yang mungkin saya hanya pergunakan setahun 1-2 kali, padahal saya bisa meminjamnya dari orang tua saya.
6. Anda membayar harga normal untuk setiap barang/jasa yang anda beli.
Anda dapat menghemat sampai 10 juta rupiah setiap tahun jika saja anda mau menunggu membeli barang/jasa dan berbelanja pada outlet-outlet yang memberikan discount.
7. Anda memiliki (atau menyewa) rumah lebih besar dari yang anda butuhkan.
Ketika anda membeli atau menyewa rumah lebih besar dari yang anda butuhkan, anda berarti akan membuang uang untuk membayar biaya bulanan yang lebih mahal, biaya pemeliharaan yang lebih tinggi dan membeli ‘barang-barang’ untuk mengisi ruang yang kosong.
8. Anda tidak memiliki rencana anggaran.
Apakah anda berasumsi bahwa jika anda menunggu dan mencari uang lebih banyak, maka keuangan anda akan membaik dengan sendirinya? Jika anda berpikiran seperti itu maka anda salah besar! Diperlukan pembuatan rencana anggaran yang serius untuk menghilangkan hutang-hutang anda serta mulai membangun kekayaan. Jadi mulailah membuat rencana anggaran sekarang!
9. Anda tidak mengoptimalkan modal yang anda miliki.
Anda harus membuat kesempatan uang anda untuk membuat uang kembali (leverage). Setiap modal yang anda miliki, tidak peduli seberapa kecil, harus dipergunakan untuk investasi. Jika modal anda tidak diinvestasikan, maka uang anda akan kehilangan nilainya karena faktor inflasi.
10. Anda menikah dengan pasangan yang ’shopping oriented’.
Anda tidak akan keluar dari lilitan hutang jika anda menikah dengan seseorang yang selalu membelanjakan uang yang anda hasilkan. Jadi tolonglah belahan jiwa anda tersebut untuk bertanggung jawab terhadap keuangan, kecuali jika anda ingin menjalani hidup lebih berat di masa mendatang.
11. Anda tidak pernah dibekali pendidikan dasar tentang pengaturan keuangan.
Ilmu keuangan bukan insting yang dibawa sejak lahir. Anda harus cukup mendapatkan bekal pendidikan tentang pengaturan keuangan, entah itu lewat pendidikan formal atau otodidak. Jika tidak, anda tidak akan kemana-kemana, tetap dalam lilitan hutang.
12. Anda memiliki mental ’ingin cepat kaya’.
Hanya 0.01% orang yang memiliki kekayaan secara instan, contohnya warisan orang tua. Sisanya sebesar 99.99%, kekayaan tidak akan datang secara instan. Jadi jika anda menghabiskan waktu dan uang anda untuk melakukan skema ’ingin cepat kaya’, yang terjadi justru hutang akan melilit anda.
13. Anda memiliki kebiasaan yang buruk.
Mabuk-mabukan dan judi adalah contoh yang sempurna dari sekian banyak kebiasan buruk, dimana anda memilih untuk menukar kesenangan jangka pendek/sesaat dengan kesengsaraan jangka panjang, yaitu hutang dan ketidaknyamanan.
14. Anda banyak menyia-nyiakan waktu anda sendiri.
Mereka mengatakan “waktu adalah uang”, dan saya tambahkan disini waktu lebih berharga dibandingkan uang. Waktu adalah hal terbesar dalam kehidupan. Uang yang hilang, dapat dicari kembali, namun waktu tidak tergantikan. Jadi jika anda gagal mengatur waktu anda, maka sudah pasti anda akan gagal mengatur uang anda … dan anda akan gagal juga dalam setiap aspek kehidupan anda. Jadi fokuskan waktu dan energi anda pada hal-hal yang penting, lupakan yang lain.
15. Anda tidak menjaga kesehatan anda.
Jagalah selalu tubuh dan pikiran anda tetap sehat! Masalah-masalah kesehatan akan menguras uang anda dan jika ini berkelanjutan, maka sudah dipastikan anda akan mengalami masalah keuangan jangka panjang.
Ingatlah selalu bahwa hutang dapat dihindari dan dihilangkan. Hanya membutuhkan sedikit usaha, pendidikan dan determinasi untuk membuat semuanya menjadi mungkin. Seperti telah saya utarakan, hiduplah dengan sederhana. Jangan menggunakan uang untuk mengesankan orang lain. Jangan hidup dengan anggapan bahwa kekayaan selalu diukur dengan materi. Kelola uang anda dengan bijak sehingga uang tidak mengatur anda.
Sumber: http://www.akuinginsukses.com/inilah-alasan-kenapa-anda-selalu-dililit-hutang/

Hukum Hutang Piutang dalam Islam

Di dalam kehidupan sehari-hari ini, kebanyakan manusia tidak terlepas dari yang namanya hutang piutang. Sebab di antara mereka ada yang membutuhkan dan ada pula yang dibutuhkan. Demikianlah keadaan manusia sebagaimana Allah tetapkan, ada yang dilapangkan rezekinya hingga berlimpah ruah dan ada pula yang dipersempit rezekinya, tidak dapat mencukupi kebutuhan pokoknya sehingga mendorongnya dengan terpaksa untuk berhutang atau mencari pinjaman dari orang-orang yang dipandang mampu dan bersedia memberinya pinjaman.
Dalam ajaran Islam, utang-piutang adalah muamalah yang dibolehkan, tapi diharuskan untuk ekstra hati-hati dalam menerapkannya. Karena utang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga, dan sebaliknya juga menjerumuskan seseorang ke dalam neraka. 
PENGERTIAN HUTANG PIUTANG:
Di dalam fiqih Islam, hutang piutang atau pinjam meminjam telah dikenal dengan istilah Al-Qardh. Makna Al-Qardh secara etimologi (bahasa) ialah Al-Qath’u yang berarti memotong. Harta yang diserahkan kepada orang yang berhutang disebut Al-Qardh, karena merupakan potongan dari harta orang yang memberikan hutang. (Lihat Fiqh Muamalat (2/11), karya Wahbah Zuhaili)
Sedangkan secara terminologis (istilah syar’i), makna Al-Qardh ialah menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan padanannya. (Lihat Muntaha Al-Iradat (I/197). Dikutip dari Mauqif Asy-Syari’ah Min Al-Masharif Al-Islamiyyah Al-Mu’ashirah, karya DR. Abdullah Abdurrahim Al-Abbadi, hal.29).
Atau dengan kata lain, Hutang Piutang adalah memberikan sesuatu yang menjadi hak milik pemberi pinjaman kepada peminjam dengan pengembalian di kemudian hari sesuai perjanjian dengan jumlah yang sama. Jika peminjam diberi pinjaman Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah) maka di masa depan si peminjam akan mengembalikan uang sejumlah satu juta juga.
HUKUM HUTANG PIUTANG:
Hukum Hutang piutang pada asalnya diperbolehkan dalam syariat Islam. Bahkan orang yang memberikan hutang atau pinjaman kepada orang lain yang sangat membutuhkan adalah hal yang disukai dan dianjurkan, karena di dalamnya terdapat pahala yang besar. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan disyariatkannya hutang piutang ialah sebagaimana berikut ini:
Dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah I: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)
Sedangkan dalil dari Al-Hadits adalah apa yang diriwayatkan dari Abu Rafi’, bahwa Nabi Sholallohu'alaihiwasallam pernah meminjam seekor unta kepada seorang lelaki. Aku datang menemui beliau membawa seekor unta dari sedekah. Beliau menyuruh Abu Rafi’ untuk mengembalikan unta milik lelaki tersebut. Abu Rafi’ kembali kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah! Yang kudapatkan hanya-lah sesekor unta ruba’i terbaik?” Beliau bersabda,  “Berikan saja kepadanya. Sesungguhnya orang yang terbaik adalah yang paling baik dalam mengembalikan hutang.” (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Istiqradh, baba istiqradh Al-Ibil (no.2390), dan Muslim dalam kitab Al-musaqah, bab Man Istaslafa Syai-an Fa Qadha Khairan Minhu (no.1600)
Nabi Sholallohu'alaihiwasallam juga bersabda: “Setiap muslim yang memberikan pinjaman kepada sesamanya dua kali, maka dia itu seperti orang yang bersedekah satu kali.” (Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albani di dalam Irwa’ Al-ghalil Fi Takhrij Ahadits manar As-sabil (no.1389)).
Sementara dari Ijma’, para ulama kaum muslimin telah berijma‘ tentang disyariatkannya hutang piutang (peminjaman).
Adapun hokum berhutang atau meminta pinjaman adalah diperbolehkan, dan bukanlah sesuatu yang dicela atau dibenci, karena Nabi  Sholallohu'alaihiwasallam pernah berhutang. (HR. Bukhari IV/608 (no.2305), dan Muslim VI/38 (no.4086)).
Namun meskipun berhutang atau meminta pinjaman itu diperbolehkan dalam syariat Islam, hanya saja Islam menyuruh umatnya agar menghindari hutang semaksimal mungkin jika ia mampu membeli dengan tunai atau tidak dalam keadaan kesempitan ekonomi. Karena hutang, menurut Rasulullah Sholallohu'alaihiwasallam, merupakan penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Hutang juga dapat membahayakan akhlaq, sebagaimana sabda Rasulullah Sholallohu'alaihiwasallam: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Bukhari).
Rasulullah Sholallohu'alaihiwasallam pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. Rasulullah bersabda: “Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali hutangnya.” (HR. Muslim).

Tips Menabung Agar Tidak Menjadi Beban

Setiap orang memiliki penghasilan dan kewajiban keuangan yang berbeda-beda di setiap bulannya. Terkadang uang yang dihasilkan tak mencukupi kebutuhan selama sebulan penuh. Penghasilan yang didapat akhirnya tak bersisa dan Anda tidak dapat menyisihkan sedikitpun untuk ditabung. 

Menabung memang jadi sesuatu yang berat untuk beberapa orang. Bagi Anda yang merasakannya, berikut beberapa tips yang dapat membantu Anda menyisihkan uang tanpa merasa terbebani untuk ditabung dalam sebulan, seperti dikutip dari About.

Beberapa ahli mengatakan, sekurang-kurangnya Anda perlu menyisihkan sepuluh persen dari penghasilan Anda untuk ditabung. Akan jadi tahap awal yang baik jika Anda dapat menyisihkan uang dengan jumlah yang disarankan itu di setiap bulannya. Seiring dengan berjalannya waktu, Anda dapat meningkatkan jumlah uang yang akan Anda tabung nantinya.

Ada pula cara lain yang dapat Anda ukur untuk mengetahui apakah memang Anda sudah menabung dengan benar atau belum. Jika Anda merasa sedikit ketat dalam menabung, itu pertanda bahwa Anda melakukannya dengan cukup baik. Ketat di sini berarti, Anda masih bisa menyisihkan uang untuk keperluan selama sebulan, tapi juga cukup untuk menabung.

Sebaiknya dalam mulai menabung ini jangan terburu-buru mengubah target, misalnya dari 10% setiap bulannya menjadi 20%. Tentu akan sangat sulit jika Anda mulai menabung langsung 20% dari penghasilan atau malah lebih. Namun jumlah tersebut bisa berubah seiring dengan usaha Anda untuk meningkatkannya. Ketika Anda mulai bisa mendisiplinkan diri, menyisihkan 20% dari penghasilan untuk ditabung jadi tidak akan terlalu sulit.

Setelah mulai menyimpan uang, Anda juga harus memiliki tujuan untuk apa Anda menabung. Misalnya, selama tiga sampai enam bulan ke depan, uang dari penghasilan yang Anda sisihkan yaitu untuk dana darurat. Kemudian Anda bisa menyisihkan sebagian lagi untuk sebagai biaya hidup di saat nantinya Anda sudah pensiun. Beberapa ahli mengatakan bahwa Anda harus berusaha menabung sebanyak lima belas persen saja untuk biaya hidup di kala sudah pensiun. Selebihnya Anda dapat menyisihkan uang Anda untuk liburan atau membeli rumah baru. Setelah itu mungkin sebagiannya lagi dapat Anda simpan untuk membangun kekayaan Anda.

Ketika Anda sudah tahu bagaimana caranya bisa menyisihkan uang untuk menabung dan akhirnya lepas dari utang, Anda akan terkejut dengan hasilnya. Hasil yang Anda dapat juga bisa bertambah dengan cepat jika Anda rajin menabung setiap bulan.

Rahasia Agar Lebih Rajin Menabung

Tabungan – Punya tabungan sendiri di bank merupakan salah satu langkah awal untuk mencapai taraf kehidupan yang jauh lebih baik di masa depan. Akan tetapi, bagaimana kalau setelah memiliki rekening tabungan ternyata Anda tak juga menjadi rajin menabung? Meski sebenarnya bukan hal yang sulit untuk dilakukan, menyisihkan uang untuk tabungan memang membutuhkan komitmen yang sangat kuat.
Goyah sedikit saja, bisa dipastikan Anda tak akan mengisi rekening tabungan di bank dan justru menggunakan uangnya untuk berbagai hal yang tak terlalu penting. Lalu, adakah cara yang bisa membuat seseorang jadi rajin menabung? Tentu saja ada! Kalau mau tahu bagaimana caranya agar lebih rajin menabung, coba simak yang berikut ini:
  1. Potong gaji di awal bulan
Eits, jangan kaget dulu! Untuk rajin mengisi tabungan, tentu saja Anda tak disarankan meminta gaji bulanan dipotong oleh pihak kantor. Justru Anda sendirilah yang harus memotong gaji saat baru menerimanya di awal bulan. Misalnya, ketika Anda menerima penghasilan sebesar Rp 3 juta, langsung sisihkan Rp 500 ribu untuk kemudian dimasukkan dalam rekening tabungan.
Awalnya memang akan terasa berat, tetapi kalau sudah terbiasa Anda justru akan merasa kurang tenang kalau belum memotong gaji sendiri di awal bulan. Dan bukan tidak mungkin jumlah dana tabungan yang awalnya hanya Rp 500 ribu akan terus meningkat seiring dengan manfaat menabung yang Anda rasakan.
  1. Beri deadline pada diri sendiri
Kalau mencicil angsuran di bank, tentu ada tanggal pembayaran maksimal setiap bulannya, kan? Jika Anda membayar cicilan melebihi tanggal yang ditetapkan, maka harus membayar denda yang jumlahnya semakin besar bisa keterlambatan semakin lama. Nah, terapkan juga hal ini pada diri Anda sendiri! Mulai saat ini, tetapkan tanggal maksimal Anda harus mengisi tabungan di bank.
Kalau sampai tanggal itu Anda belum juga memasukkan sejumlah uang dalam rekening tabungan, maka wajib membayar denda yang bisa ditetapkan sendiri nominal
nya. Kalau perlu,  tetapkan denda dengan jumlah yang sangat besar untuk memotivasi diri Anda sendiri agar bisa mengisi tabungan tetap waktu. Ingat ya, jangan pernah melanggar komitemen yang telah Anda buat sendiri agar keinginan untuk rajin menabung bisa tercapai.
  1. Ubah pola pikir
Banyak orang yang berpikir kalau tabungan hanya perlu dimiliki oleh orang-orang yang sudah tua atau sudah menikah. Padahal, menabung sedini mungkin merupakan hal yang paling baik dan bisa memberikan keuntungan paling besar suatu hari nanti. Makanya, ubah pola pikir Anda tentang kegiatan menabung dan sebisa mungkin miliki tabungan sejak dini
Agar menabung jadi lebih menyenangkan, pilih saja layanan simpanan dari BCA yang dapat mengakomodasi setiap kebutuhan. Mulai dari Tabungan Hari Depan (Tahapan), tabungan pendidikan, tabungan anak, hingga tabungan deposito semuanya bisa didapatkan di BCA. Selain sistem registrasinya praktis, Anda juga akan merasakan berbagai kenyamanan menabung di bank swasta terbesar di Indonesia ini.

Sudah siap menjalankan ketiga kiat tersebut? Yuk, rajin-rajinlah mengisi tabungan agar Anda bisa memenuhi berbagai kebutuhan secara mandiri tanpa perlu tergantung dengan orang lain.

Sumber:  gayahidup.com

3 Mitos yang Wajib Anda Tahu Tentang Produk Syariah

Mitos #1

Produknya Hanya untuk Muslim

Bank Syariah - CekAja.com
Siapa bilang produk-produk bank syariah hanya diperuntukkan untuk umat muslim saja. Seperti produk bank konvensional lainnya, produk syariah juga terbuka dan bisa dimiliki oleh siapa saja. Seperti fakta yang kami kutip dari sebuah berita dari Tribunnews.com pada 24 April 2014, berjudul “Non Muslim Jadi Peminat Dominan Produk Syariah Bank OCBC NISP”. Pada artikel tersebut, disebutkan bahwa faktanya 60 persen peminat layanan syariah dari Bank OCBC NISP adalah non muslim.
Bahkan, ditambahkan lagi, produk yang cukup tinggi peminatnya adalah produk dari pembiayaan perumahan yang mencapai 98 persen dari total pembiayaan OCBC NISP Syariah. Produk itu merupakan bagian dari pembiayaan OCBC NISP Syariah yang ditujukan kepada segmen konsumen.
Bahkan, data sampai saat ini menunjukkan bahwa proporsi akad murabahah menguasai sekitar 60-70% jumlah pembiayaan yang disalurkan oleh Bank Syariah (baik Bank Syariah maupun BMT). Keadaan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Malaysia dan negara-negara Timur Tengah.

Mitos #2

Tidak Ada Bunga, Jadi Tidak Ada Untung

Nisbah Bagi Hasil - CekAja.com
Bank syariah memang tidak memiliki bunga, namun bukan berarti tidak ada hasil yang akan Anda terima ketika memiliki produknya. Pada prinsipnya, bank syariah memiliki prinsip bagi hasil yang merupakan landasan utama dalam segala operasinya, baik dalam penghimpunan dananya maupun dalam penyalurannya (dalam perbankan syariah penyaluran dana biasa disebut dengan pembiayaan). Pasalnya, sistem bunga (riba) tidak dibolehkan dalam syariah Islam.
Pada sistem basil syariah, keuntungan yang dibagi memang disesuaikan dengan kondisi tertentu. Maksudnya, apabila untungnya sedikit maka bagi hasilnya juga sedikit. Hal itu jelas berbeda dengan bank konvensional yang menggunakan sistem bunga. Pada bank konvensional, besar bunga yang akan diperoleh juga sudah dijanjikan setiap bulannya, tidak peduli apakah keuntungan yang diperoleh oleh bank itu besar ataupun kecil atau malah rugi. Hal itulah yangberbeda dengan bank syariah.
Dengan sistem operasi seperti itu, maka bank syariah tidak mengenal “negative spread” (perbedaan antara suku bunga pinjaman dan suku bunga simpanan yang negatif sehingga menimbulkan kerugian bagi bank konvensional). Jadi, dengan menerapkan sistem bagi hasil, bank syariah dianggap lebih adil bagi kedua belah pihak, dimana untung dinikmati bersama rugi ditanggung bersama.

Mitos #3

Tidak Banyak Produk

Produk Syariah - CekAja.com
Produk perbankan berbasis syariah apa yang akan Anda pilih? Saat ini, perkembangan dari keragaman produk syariah di Indonesia cukup pesat. Mulai dari produk tabungan syariah, kartu kredit syariah, deposito syariah, pembiayaan syariah, hingga asuransi syariah. Puluhan lembaga perbankan, pembiayaan, dan asuransi, telah menyediakan beragam pilihan produk-produk tersebut. Tinggal bandingkan saja, dan Anda dapat langsung memilih produk syariah yang dinginkan.
Perkembangan produk-produk berbasis syariah cukup mengesankan. Hal itu terbukti dalam hasil survei Economic Intelligence Unit 2013 yang menjelaskan tentang potensi konsumen yang memilih produk syariah, yaitu mencapai 10 persen dari total populasi dunia. Di Indonesia sendiri, walau banyak yang mengatakan sedikit terlambat untuk memulai dibanding negara-negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya, namun perkembangan bank syariah di Indonesia terbilang cepat.
Bank Indonesia sendiri, dalam Outlook Perbankan Syariah 2012, mengeluarkan data bahwa selama tahun 2011 perbankan syariah Indonesia mengalami salah satu masa pertumbuhan tertinggi, dimana pada Oktober 2011 pertumbuhan aset Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah telah mencapai 48,1% (yoy) yang merupakan pertumbuhan tahunan tertinggi selama tiga tahun terakhir.

Sumber: https://www.cekaja.com/info/3-mitos-yang-wajib-anda-tahu-tentang-produk-syariah/

Tujuh Perbedaan Antara Bunga & Bagi Hasil

Pertama, penentuan bunga ditetapkan sejak awal, tanpa berpedoman pada untung rugi, sehingga besarnya bunga yang harus dibayar  sudah diketahui sejak awal. Sedangkan pada sistem bagi hasil, penentuan jumlah besarnya tidak ditetapkan sejak awal, karena pengemblian bagi hasil didasarkan kepada untung rugi dengan pola nisbah (rasio) bagi hasil. Maka jumlah bagi hasil baru diketahui setelah berusaha atau sesudah ada untungnya. 

 

Kedua, besarnya persentase bunga dan besarnya nilai rupiah, ditentukan sebelumnya berdasarkan jumlah uang yang dipinjamkan. Misalnya 24 % dari besar pinjaman. Sedangkan dalam bagi hasil, besarnya bagi hasil tidak didasarkan pada jumlah pinjaman (pembiayaan), tetapi berdasarkan keuntungan yang pararel, misalnya, 40 : 60 (40 % keuntungan untuk bank dan 60 % untuk deposan) atau 35 : 65 (35 % untuk bank dan 65 % untuk deposan) dan seterusnya. 

 

Ketiga, dalam sistem bunga, jika terjadi kerugian, maka kerugian itu hanya ditanggung si peminjam (debitur) saja, berdasarkan pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan, sedangkan pada sistem bagi hasil, jika terjadi kerugian, maka hal itu ditanggung bersama oleh pemilik modal dan peminjam. Pihak perbankan syariah menanggung kerugian tenaga, waktu dan pikiran.

 

Keempat, pada sistem bunga, jumlah pembayaran bunga kepada nasabah penabung / deposan tidak meningkat, sekalipun keuntungan bank meningkat, karena persentase bunga ditetapkan secara pasti tanpa didasarkan pada untung dan rugi. Sedangkan dalam sitem bagi hasil, jumlah pembagian laba yang diterima deposan akan meningkat, manakala keuntungan bank meningkat, sesuai dengan peningkatan jumlah keuntungan bank.

 

Kelima, pada sistem bunga, besarnya bunga yang harus dibayar di peminjam, pasti diterima bank, sedangkan dalam sistem bagi hasil, besarnya tidak pasti, tergantung pada keuntungan perusahaan yang dikelola si peminjam, sebab keberhasilan usahalah yang menjadi perhatian bersama pemilik modl (bank) dan peminjam.

 

Keenam, sestem bunga, dilarang oleh semua agama samawi. Sedang sistem bagi hasil tak ada agama yang mengancamnya. Bunga dilarang dengan tegas oleh agama-agama Yahudi, Nasrani dan Islam, seperti terungkap dibawah ini :

“Jika kamu meminjamkan harta kepada salah seorang putra bangsaku, jangan kamu bersikap seperti orang yang menghutangkan, jangan kamu meminta keuntungan untuk hartamu (Kitab Keluaran Perjanjian Lama, Ayat 25 pasal 22).

“Jika saudaramu membutuhkan sesuatu, maka tanggunglah, jangan kau meminta dirinya keuntungan dan manfaat” (Kitab Imamat ayat 35 pasal 25).

“Jika kamu meminjamkan kepada orang, yang kamu mengharapkan bayaran darinya, maka kelebihan apa yang diberikan olehmu. Tetepi lakukanlah kebaikan-kebaikan dan pinjamkanlah tanpa mengharapakan pengembaliannya. Dengan begitu pahalamu melimpah ruah. (Injil Lukas, ayat 34, 35 pasal 6).

Berdasarkan nash ini, para gerejawan sepakat mengharamkan riba secara total. Scubar mengatakan, “Sesungguhnya orang yang mengatakan riba bukan maksiat, ia di hitung sebagai orang atheis yang keluar dari agama”. Sementara itu, Paus Pius berkata, “ Sesungguhnya para pemakan riba, mereka kehilangan harga diri dalam hidup di dunia dan mereka bukan orang yang pantas dikafankan setelah mereka mati”.

 

Ketujuh, pihak bank dalam sistem bunga, memastikan penghasilan debitur di masa yang akan datang dan karena itu ia menetapkan sejak awal jumlah bunga yang harus dibayarkan kepada bank. Sedangkan dalam sistem bagi hasil, tidak ada pemastian tersebut, karena yang bis memastikan penghasilan di masa depan hanyalah Allah. Karena itu, bunga bertentangan dengan surah Luqman ayat 34. “Tak seorangpun yang bisa mengetahui apa (berapa) yang dihasilkannya besok”. Sedangkan bunga sudah ditetapkan jumlahnya sejak awal. Kesimpulan point ini adalah kalau bunga bertentangan dengan surah Luqman ayat 34, sedangkan bagi hasil merupakan penerapan surat Luqman ayat 34 tersebut.

Semoga bermanfaat :)